Langsung ke konten utama

Kisah Inspiratif #1 Tidak Berharap kepada selain Allah



Kisah Inspiratif #1

Tidak berharap kepada selain Allah
FSNtimes 

Pada zaman khalifah Harun Ar-Rosyid ada seorang khalifah yang bernama Hisyam Ibnu Malik sangat menghormati orang alim sebut saja si Fulan.
Suatu ketika, Hisyam Ibnu Malik berada di Masjid bersama beberapa orang dan salah satunya adalah si Fulan.
Hisyam berkata kepada si fulan “ Apakah kamu menginginkan sesuatu? Sebutkanlah, dengan izin Allah akan saya berikan..”
Si Fulan menjawab “ Mana mungkin saya berada di Rumah Allah (Masjid) jika saya meminta kepada selain Allah”
Hisyam pun terdiam lalu keluar dari masjid dan menunggu si Fulan selesai berdo’a. Setelah beberapa saat, si Fulan akhirnya keluar dari masjid. Hisyam pun mendekati si Fulan dan berkata kembali “ Sekarang kita sudah ada diluar masjid. Apakah kamu menginginkan sesuatu? Dengan izin Allah akan saya berikan”
Lantas di Fulan menjawab serta bertanya kepada Hasyim “ Apakah yang akan engkau berikan, urusan dunia atau Akhirat? “
“ Tentu saja urusan dunia, karena apabila Akhirat, dan misal kamu menginginkan Surga, bahkan saya belum tentu masuk surga”
Mendengar jawaban dari Hisyam tersebut, si Fulan pun berkata “Kepada Allah pun bahkan aku tidak pernah meminta untuk urusan dunia, bagaimana mungkin saya akan meminta dunia kepadamu?!”
Hasyim kaget dan terdiam mendengar ucapan si Fulan,  dan tanpa mengucap apapun, Hisyam pun langsung pergi meninggalkan si Fulan.

Baca : Jangan pernah remehkan amalan yang kecil

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya manakah yang benar antar "Kowe" dengan "Koe"?

Halo sobat! Makasih ya udah mampir ke FSNtimes, oh ya kali ini FSNtimes akan membahas tentang “Belajar Bahasa Jawa Yang Benar”. Kok bahasa jawa sih? Yo iyo, amarga kan aku wong jowo hihihi. Pada umumnya, Orang Jawa biasanya memanggil seseorang (kamu) dengan kata “kowé” atau “koe” ( yah walaupun ada lagi dengan bahasa yang lebih halus yaitu “Panjenengan dan Njenengan”. Tapi taukah kalian bahwa “Kowé” dan “Kamu”  itu memiliki arti yang berbeda? Berikut penjelasannya: Dalam kamus bahasa jawa “kowé” memiliki arti kamu. Sedangkan “koe” artinya adalah Anak lutung atau Anak Monyet. Nah jadi akhirnya yang benar adalah “Kowé” bukan “koe” jadi mulai dari sekarang kita harus berhati-hati dalam menulis dan mengucapkan kata “Kowé dan Koe” karena walaupun hanya beda satu huruf tapi akan membuat maknanya berbeda jauh. Dan kita juga bisa mendapat dosa lho karena jika kita menggunakan kata “koe” untuk memanggil nama orang, maka sama saja kita menghina atau menganggap orang itu adalah “Anak Lutu...

Berbakti Kepada Orang Tua - Ustadz Hanan Attaki

B erbakti kepada kedua Orang Tua FSNtimes  Ada satu hadist dari Rasulullah SAW tentang berbakti kepada orang tua ” Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, Diluaskan Rezekinya, Hendaklah ia berbakti kepada orang tua. Dan menyambung silahturahim” Ternyata, Berbakti kepada orang tua itu adalah syarat untuk diberikan umur yang panjang. Arti umur yang panjang ada dua: yang pertama bisa bener-bener Allah tambah durasi waktu, yang kedua bisa berarti kehidupan kita itu akan sangat bahagia sepanjang hidup. Tidak ada yang sia-sia. Sehingga kalau kita merasa bahwa pekerjaan kita mulai banyak masalah, usaha-usaha kita mulai mengalami kerugian, lantas kita mencari-cari penyebabnya.   Kita evaluasi sekian banyak hal, Tapi jangan lupa, yang pertama harus kita evaluasi adalah kita evaluasi dulu hubungan kita dengan Allah SWT, kemudian evaluasi hubungan kita dengan orang tua. Oleh: Ustadz Tengku Hanan Attaki Twitter : @PemudaHijrah      ...

Dilan Bukan Pemuda Idaman!!!

Dilan, Bukanlah Pemuda Idaman! Oleh: Muhammad Fahrul Alam FSNtimes Sobat, akhir-akhir ini dunia remaja di Indonesia sedang diramaikan film Dilan. Film dilan diadopsi dari novel berjudul sama, yaitu Dilan 1990. Sebagai muslim dan muslimah yang cerdas, tak layak bagi kita merespon dengan cepat dan mudah ikut-ikutan. Biasakan berfikir sebelum berbuat. Film Dilan ini makin membuat kita membawa kedekatan kepada Allah atau justru malah merangsang kemaksiatan kita pada Allah. Baca juga:  Amalan kecil yang bisa membawa kita masuk surga Sobat, tak ada yang mengagumkan dari novel dan film Dilan ini. Jalan ceritanya didominasi dengan pacaran yang jelas-jelas haram dalam islam, pendewaan nafsu, dan maksiat atas nama Cinta. Jika banyak yang bilang keunikan ada diromantisme Dilan. Namun justru disitulah rayuan maut syaitan yang membius iman kita. Kecerdasan yang ditampilkan dalam jalan cerita hanyalah kamuflase dari kebodohan pemuda yang dangkal ajaran agama dan iman yang ...