Langsung ke konten utama

Melupakan atau Mengingat Dosa?

🍂Melupakan Atau Mengingat Dosa



   Pemimpin para sufi, Imam Junaidi bercerita:

 Suatu hari aku mengunjungi Sarî As-Saqathî yang saat itu  sedang bermuram durja. Aku bertanya, 'Ada apa denganmu?'


 'Seorang pemuda mendatangiku dan bertanya tentang Tobat, lalu kukatakan bahwa Tobat itu kamu tidak melupakan dosamu. Tapi ia tidak setujui dan berkata bahwa   tobat itu adalah kamu melupakan dosamu,' kata Sarî As-Saqathî menceritakan ihwalnya.


 'Kalau aku setuju dengan ucapan pemuda itu,' kataku.


'Bagaimana bisa demikian?!'


"Karena sesungguhnya ketika aku dalam keadaan yang tidak menyenangkan kemudian Allah  merubahku menjadi berada keadaan yang menyenangkan, maka menyebut-nyebut hal yang tidak menyenangkan dalam kondisi yang menyenangkan tersebut adalah perbuatan yang tidak menyenangkan..,'  jelasku Mendengar penjelasanku ini ia terdiam."



Lihatlah tak seorangpun mengenal siapa pemuda itu, tetapi ia memiliki pandangan hati dan pemikiran tentang Allah yang luar biasa. Ia memikirkan bagaimana seharusnya bersikap di hadapan Allah sementara yang lain sibuk memikirkan penampilannya di hadapan manusia.




📚Sumber ::

   Abu Bakar Al-'Aththas bin Abdullah Al-Habsyi, Kunuzus Sa'adatil Abadiah Fil Anfasil 'Aliyyati Habasyiyyah, Al-Haramain singapura,Manuskrip Kalam Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi,Hal.193-195



_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya manakah yang benar antar "Kowe" dengan "Koe"?

Halo sobat! Makasih ya udah mampir ke FSNtimes, oh ya kali ini FSNtimes akan membahas tentang “Belajar Bahasa Jawa Yang Benar”. Kok bahasa jawa sih? Yo iyo, amarga kan aku wong jowo hihihi. Pada umumnya, Orang Jawa biasanya memanggil seseorang (kamu) dengan kata “kowé” atau “koe” ( yah walaupun ada lagi dengan bahasa yang lebih halus yaitu “Panjenengan dan Njenengan”. Tapi taukah kalian bahwa “Kowé” dan “Kamu”  itu memiliki arti yang berbeda? Berikut penjelasannya: Dalam kamus bahasa jawa “kowé” memiliki arti kamu. Sedangkan “koe” artinya adalah Anak lutung atau Anak Monyet. Nah jadi akhirnya yang benar adalah “Kowé” bukan “koe” jadi mulai dari sekarang kita harus berhati-hati dalam menulis dan mengucapkan kata “Kowé dan Koe” karena walaupun hanya beda satu huruf tapi akan membuat maknanya berbeda jauh. Dan kita juga bisa mendapat dosa lho karena jika kita menggunakan kata “koe” untuk memanggil nama orang, maka sama saja kita menghina atau menganggap orang itu adalah “Anak Lutu...

Berbakti Kepada Orang Tua - Ustadz Hanan Attaki

B erbakti kepada kedua Orang Tua FSNtimes  Ada satu hadist dari Rasulullah SAW tentang berbakti kepada orang tua ” Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, Diluaskan Rezekinya, Hendaklah ia berbakti kepada orang tua. Dan menyambung silahturahim” Ternyata, Berbakti kepada orang tua itu adalah syarat untuk diberikan umur yang panjang. Arti umur yang panjang ada dua: yang pertama bisa bener-bener Allah tambah durasi waktu, yang kedua bisa berarti kehidupan kita itu akan sangat bahagia sepanjang hidup. Tidak ada yang sia-sia. Sehingga kalau kita merasa bahwa pekerjaan kita mulai banyak masalah, usaha-usaha kita mulai mengalami kerugian, lantas kita mencari-cari penyebabnya.   Kita evaluasi sekian banyak hal, Tapi jangan lupa, yang pertama harus kita evaluasi adalah kita evaluasi dulu hubungan kita dengan Allah SWT, kemudian evaluasi hubungan kita dengan orang tua. Oleh: Ustadz Tengku Hanan Attaki Twitter : @PemudaHijrah      ...

Dilan Bukan Pemuda Idaman!!!

Dilan, Bukanlah Pemuda Idaman! Oleh: Muhammad Fahrul Alam FSNtimes Sobat, akhir-akhir ini dunia remaja di Indonesia sedang diramaikan film Dilan. Film dilan diadopsi dari novel berjudul sama, yaitu Dilan 1990. Sebagai muslim dan muslimah yang cerdas, tak layak bagi kita merespon dengan cepat dan mudah ikut-ikutan. Biasakan berfikir sebelum berbuat. Film Dilan ini makin membuat kita membawa kedekatan kepada Allah atau justru malah merangsang kemaksiatan kita pada Allah. Baca juga:  Amalan kecil yang bisa membawa kita masuk surga Sobat, tak ada yang mengagumkan dari novel dan film Dilan ini. Jalan ceritanya didominasi dengan pacaran yang jelas-jelas haram dalam islam, pendewaan nafsu, dan maksiat atas nama Cinta. Jika banyak yang bilang keunikan ada diromantisme Dilan. Namun justru disitulah rayuan maut syaitan yang membius iman kita. Kecerdasan yang ditampilkan dalam jalan cerita hanyalah kamuflase dari kebodohan pemuda yang dangkal ajaran agama dan iman yang ...