Langsung ke konten utama

Perantara Kebaikan

📜 PERANTARA KEBAIKAN



Disebutkan kisah tentang seorang laki-laki yang sering berbuat dosa dari Bani Israil. Suatu hari ia melakukan perjalanan melintasi padang pasir.  Kemudian laki-laki tersebut bertemu dengan seorang yang ahli ibadah yang hampir mati karena haus  luar biasa yang ia rasakan.

Ahli maksiat tadi berfikir dalam hatinya "Jika aku memberikan airku kepada ahli ibadah ini, aku akan kehausan karena perjalananku yang masih panjang. Tapi, jika aku membiarkan ahli ibadah ini mati karena kehausan, pasti Allah murka dan tidak akan pernah memaafkanku".

 Akhirnya ahli maksiat itu memberikan airnya untuk diminum oleh si ahli ibadah.

Kelak di akhirat, para malaikat penyiksa akan menyeret orang yang ahli maksiat tersebut ke neraka, karena kemaksiatan yang dilakukannya.

Ketika para malaikat menyeretnya menuju neraka, ia melihat orang yang ahli ibadah tersebut di giring oleh malaikat rahmat menuju surga.

 Dengan gemetaran orang yang berdosa tersebut berkata kepada orang yang ahli ibadah, "Apakah kau masih ingat denganku ?  Aku orang laki-laki yang pernah memberimu air saat kau kehausan di padang pasir dan hampir saja mati ?"

Kemudian ahli ibadah itupun menghadap kepada Allah dan berkata, "Ya Allah orang ini dulu pernah lebih mencintaiku daripada dirinya sendiri, maka biarkan aku menjadi perantara baginya"

Lalu Allah berfirman kepadanya, " Silahkan menjadi perantara baginya.... Raihlah ia dengan tanganmu, dan bawalah ia ke surga bersamamu."



📚Sumber : dikutip dari kumpulan ceramah habib Umar bin Hafidz



___

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebenarnya manakah yang benar antar "Kowe" dengan "Koe"?

Halo sobat! Makasih ya udah mampir ke FSNtimes, oh ya kali ini FSNtimes akan membahas tentang “Belajar Bahasa Jawa Yang Benar”. Kok bahasa jawa sih? Yo iyo, amarga kan aku wong jowo hihihi. Pada umumnya, Orang Jawa biasanya memanggil seseorang (kamu) dengan kata “kowé” atau “koe” ( yah walaupun ada lagi dengan bahasa yang lebih halus yaitu “Panjenengan dan Njenengan”. Tapi taukah kalian bahwa “Kowé” dan “Kamu”  itu memiliki arti yang berbeda? Berikut penjelasannya: Dalam kamus bahasa jawa “kowé” memiliki arti kamu. Sedangkan “koe” artinya adalah Anak lutung atau Anak Monyet. Nah jadi akhirnya yang benar adalah “Kowé” bukan “koe” jadi mulai dari sekarang kita harus berhati-hati dalam menulis dan mengucapkan kata “Kowé dan Koe” karena walaupun hanya beda satu huruf tapi akan membuat maknanya berbeda jauh. Dan kita juga bisa mendapat dosa lho karena jika kita menggunakan kata “koe” untuk memanggil nama orang, maka sama saja kita menghina atau menganggap orang itu adalah “Anak Lutu...

Berbakti Kepada Orang Tua - Ustadz Hanan Attaki

B erbakti kepada kedua Orang Tua FSNtimes  Ada satu hadist dari Rasulullah SAW tentang berbakti kepada orang tua ” Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, Diluaskan Rezekinya, Hendaklah ia berbakti kepada orang tua. Dan menyambung silahturahim” Ternyata, Berbakti kepada orang tua itu adalah syarat untuk diberikan umur yang panjang. Arti umur yang panjang ada dua: yang pertama bisa bener-bener Allah tambah durasi waktu, yang kedua bisa berarti kehidupan kita itu akan sangat bahagia sepanjang hidup. Tidak ada yang sia-sia. Sehingga kalau kita merasa bahwa pekerjaan kita mulai banyak masalah, usaha-usaha kita mulai mengalami kerugian, lantas kita mencari-cari penyebabnya.   Kita evaluasi sekian banyak hal, Tapi jangan lupa, yang pertama harus kita evaluasi adalah kita evaluasi dulu hubungan kita dengan Allah SWT, kemudian evaluasi hubungan kita dengan orang tua. Oleh: Ustadz Tengku Hanan Attaki Twitter : @PemudaHijrah      ...

Dilan Bukan Pemuda Idaman!!!

Dilan, Bukanlah Pemuda Idaman! Oleh: Muhammad Fahrul Alam FSNtimes Sobat, akhir-akhir ini dunia remaja di Indonesia sedang diramaikan film Dilan. Film dilan diadopsi dari novel berjudul sama, yaitu Dilan 1990. Sebagai muslim dan muslimah yang cerdas, tak layak bagi kita merespon dengan cepat dan mudah ikut-ikutan. Biasakan berfikir sebelum berbuat. Film Dilan ini makin membuat kita membawa kedekatan kepada Allah atau justru malah merangsang kemaksiatan kita pada Allah. Baca juga:  Amalan kecil yang bisa membawa kita masuk surga Sobat, tak ada yang mengagumkan dari novel dan film Dilan ini. Jalan ceritanya didominasi dengan pacaran yang jelas-jelas haram dalam islam, pendewaan nafsu, dan maksiat atas nama Cinta. Jika banyak yang bilang keunikan ada diromantisme Dilan. Namun justru disitulah rayuan maut syaitan yang membius iman kita. Kecerdasan yang ditampilkan dalam jalan cerita hanyalah kamuflase dari kebodohan pemuda yang dangkal ajaran agama dan iman yang ...